Showing posts with label life. Show all posts
Showing posts with label life. Show all posts

Monday, September 6, 2010

Daebak!

Ngerjain tugas Sungai Kehidupan itu sangat emosional yah ternyata. 
Oh iya, bagi yang belum tau sungai kehidupan itu apa, Sungai Kehidupan itu perjalanan kehidupan kita dari umur 0-18 tahun (in my case) tugas ini bagus loh buat tuntasin semua masalah yang masih berasa efek sakitnya (dan tentu aja tanpa kita sadari, kita nulis hal yang paling ninggalin kenangan baik maupun buruk sekalipun)

Percaya ngga percaya, emosi di sungai kehidupan saya menimbulkan banyak tangisan, terlalu emosional soalnya. Saya tulis semua hal yang belum tuntas di masa lalu, ya semuanya. Makannya saya sangat mengantisipasi tugas sungai kehidupan ini. Setelah mengerjakan tugas ini saya merasa lebih baik, lebih bisa diterima lingkungan, bisa lebih menerima kejadian lampau yang dulu. Saya pikir ini tugas Sungai Kehidupan ini bisa membuat siapa saja jadi lebih menerima dan lebih memaafkan.

Entah..
Saya merasa beban saya lebih ringan dan merasa semua berjalan dengan baik. Sungai Kehidupan ini bisa jadi ajang mengevaluasi diri di masa lalu juga, mencari hal yang salah dan berusaha agar tidak mengulanginya dimasa depan.

IN SHORT,
saya merasa bisa lebih jujur kepada diri saya. 

p.s:
jangan kaget apabila kalian berubah jadi cengeng saat menulis sungai kehidupan, tugas itu dirancang memang untuk membuat kalian menangis :D

KISSHUG

Friday, September 3, 2010

Medley Tiga Hari Absurd

Emang ga ada yang paling menyenangkan selain bisa kuliah di jurusan idaman. Tiga hari yang lalu, disibukan dengan kuliah perdana yang seru semua. Pengajar Psikologi itu rata-rata seru semuanya, emang sih kurang enak dengan situasi perbandingan 2:5 antara laki-laki sama perempuan.
Tetep aja kuliah perdana gw seru. Kalo kata orang korea, "daebak". Oh iya, tiga hari yang lalu, gw lewatin dengan penuh kebodohan (apa minim banget yah pengetahuan gw akan F.Psi?)

Hari pertama kuliah:
Hari senin 30 Agustus 2010, dengan berbekal pengetahuan yang (kurang) bagus tentang F.Psi dan ospek, gw melangkahkan kaki ke F.Psi dengan bangga (yaiyalah siapa juga yang ga bangga, jurusan idaman sepanjang masa gw itu). Turun dari mobil dengan langkah gembira tanpa tau ada bahaya yang mengancam. 

Saat melintasi gedung A, banyak pertanyaan yang melintas diotak gw, gw mulai menyadari, ada yang salah disini, "kenapa banyak yang pake jaket kuning?" "ada acara apaan nih? bukannya kuliah biasa hari ini Psikologi Umum, emang wajib pake jakun apa?" "Itu senior atau maba yah?"

Dengan sigap gw lari ke gedung H, meminta bala bantuan dengan nelpon Chui. 
G: Chu! masa prosesi pake jakun! Gw ga bawa jakun nih, gimana? (suara panik sejadi-jadinya)
C: Gw bawa jakun nih dimobil, lo mau pinjem? (masih belom bangun tidur kayaknya)
G: (berpikir dalam hati chui ngeledek atau mungkin chui lupa gw udah pindah dr FIB) chu, kan emblemnya beda
C: Ha? Oh iya yah, hahaha, gw lupa lo pindah ke F.Psi, hahaha. Lo serasa bukan maba deh masa ga tau kalo bawa jakun? hahaha, nih pake aja jakun FIB gw
G: ..... (semakin merasa terancam)

Akhirnya hari pertama kuliah gw putuskan untuk ga masuk dan santai di perpus FIB sambil download (plis janga ditiru, ini perbuatan ga baik)

Hari kedua kuliah:
Hari selasa 31 Agustus 2010, mata kuliah hari ini Bimbingan Pendidikan di ruang H-108. Merasa excited dengan mata kuliah ini, gw memutuskan untuk ngga telat, ga lupa bawa jakun, ga lupa bawa tugas, pokoknya persiapaan gw bisa dibilang matang, sampai..

Waktu sudah menunjukan pukul 12.45 kelas Bimbingan Pendidikan dimulai jam 1. Merasa harus ngedapetin kursi didepan, gw memutuskan untuk masuk kelas. Sampai dilantai 1 gedung H (jadi gedung H itu, lantai dasarnya lobby, tempat makan, ATM, alfamart, toko buku, sedangkan ruang kelasnya di lantai atas) Gw melihat banyak sinar kuning bertebaran dan banyak yang ngegerombol di depan sebuah kelas. 

Dengan (sok) yakin, gw ikutan nimbrung sama teman-teman baru gw itu. Ngobrol-ngobrol, nanya nama,  asal SMA, alasan masuk psikologi, dan sejumlah pertanyaan lain yang ga penting. Jam 1 tepat, kita masuk kelas. Pelajaran juga berjalan dengan baik, baik banget malahan. Dosen gw, mbak Romi, seru banget ngajar pelajaran ini (baru sekali gw rasain kuliah kayak main, penuh dengan ketawa sepanjang pelajaran, dan banyak pertanyaan yang seru buat dibahas sama-sama)

Kelas berjalan dengan baik sampai-sampai waktu 2 jam 30 menit berlalu gitu aja tanpa sia-sia (istilah kerennya quality time). Mbak Romi pun mulai ngabsen semua mahasiswa, semua nama mahasiswa satu persatu dipanggil, gw masih asik ngobrol sama temen baru gw, Listia. 
Ga lama kemudian, mbak Romi nutup daftar absensi dan gw mulai ngerasa ada yang salah, pertanyaan ini pun berkecamuk diotak gw "kenapa nama gw ga dipanggil-panggil yah? Masa iya diabsensi ga ada nama gw?" 

Kepanikan merajai diri gw, gw pun menghadap mbak Romi buat ngasih tau nama gw belum dipanggil. 
G: Mbak, nama saya kok belum dipanggil yah?
MR: Masa? nama kamu siapa? apa saya lupa yah manggil nama kamu?
G: Kartika Putri mbak (ngejawab dengan keringat dingin)
MR: Ga ada kok
G: (Serasa petir nyambar tubuh gw jadi kepingan)
MR: Hei? kok bengong? kamu dikelas apa bidiknya (ps: bidik itu Bimbingan Pendidikan)
G: dikelas ini, saya cek siak-ng dulu yah mbak (sambil ngutak-ngatik hp dan ngecek siak-ng)

Beberapa menit kemudian..
Jadwal siak-ng ternyata, jam 1 diruangan H.108,bukan H-106, dan kelas yang gw masukin adalah kelas H-106. Gw pun merasa sangat malu seolah ngga berbekal pengetahuan apa-apa. Dengan langkah lunglai pun, gw jalan ke bagian akademik buat pindah absen.

Sebenarnya masih banyak banget cerita aneh absurd menggelitik selama tiga hari kemarin, gw malu mau ceritain semuanya. Hahaha, tapi anggap aja ini langkah awal kenal lebih jauh sama gw, istilah kerennya self-disclosure (ketawan baru belajar).

Berhubung banyak tugas awal yang belum selesai, kejadian rabu 1 september gw bahas dipost selanjutnya yah, hehehe.

p.s:
I can't wait to attend SS3 Singapore, can't wait to meet you my babyKyu

KissHug

Friday, July 23, 2010

I Feel More Alive, Because...






There is no "u" in my alphabet
but still, 
I can fill in I-love-you statement with "me" 
instead of "u"

Siapa Pahlawan itu?

Percaya tidak percaya, semua orang punya bibit kepahlawanan bagi orang lain. Bukan pahlawan berbaju ketat yang terinfeksi gen laba-laba misterius atau pahlawan yang menyamar menjadi wartawan disebuah media cetak. Bukan itu yang saya maksud, pahlawan yang saya maksud adalah pahlawan yang berada dalam diri kita.

Ya, percaya tidak percaya.
Mungkin narasi ini memiliki keterbatasan dibanding apa yang telah saya alami sebelumnya. Pengalaman 15-20 menit ini sangat hebat (entah saya tidak tahu, apakah ini kata-kata yang cocok untuk menggambarkan situasi yg menurut saya lebih dari "hebat") dan tentu saja sangat mempengaruhi pola hidup saya. 
Jika ada nominasi pemilihan pahlawan favorit, saya akan memilih dia. Supir taksi. Supir taksi X yang pernah saya tumpangi di depan halte bis terletak persis didepan alfamart Margonda Raya (tidak begitu jauh dari Es Pocong, Kober). 
Dia adalah orang yang ingin saya nobatkan menjadi pahlawan favorit setelah ayah dan ibu saya (tentunya).

Semua seakan bertanya, "apa yang istimewa dari supir taksi ini?". Satu di antara sejuta. Pria separuh baya dengan usia yang tergurat jelas, untaian peluh yang tak terucap, tinggi semampai, perawakan asli Indonesia dengan kulit cokelat mengilap, bibir yang tak lelah mengucap doa, serta tutur kata sopannya. 
Sosok pahlawan. Sekali lagi, bukan pahlawan berbaju ketat, tapi pahlawan ini berseragam supir taksi.
Jujur, selama ini tidak ada yang mengajarkan kepada saya, bagaimana cara mengelola uang dengan baik. 

Insiden ini hanya melibatkan 15-20 menit, tetapi peristiwa ini lebih berarti daripada apapun. Percakapan penuh makna dengan banyak emosi, menjadi topik utama dalam percakapan kami.
(untuk lebih lengkapnya klik disini)

Mengapa saya menulis peristiwa ini sebanyak dua kali? Jawabannya mudah, karena peristiwa ini tidak saya alami dua kali. Jujur, saya mencari bapak supir taksi itu setiap sore setelah pulang kuliah di depan Es Pocong, namun, saya tidak bisa menemukan beliau.
Ditambah lagi sekarang, halte didepan sebuah minimarket (yang tak jauh juga dari Es Pocong) telah digusur, bahkan pohon dipelataran parkir Es Pocong juga sudah tidak ada lagi. Saya juga bingung harus mencari beliau ke mana lagi.

Entahlah, semoga dengan ikutnya saya dalam lomba blog ini, saya bisa menemukan beliau. 
Harapan saya, sosok figur bapak supir taksi ini lebih mendominasi kota Depok.

Tuesday, June 22, 2010

This is My Heart





P.S:
gambar ini saya repost dari tumblr arini . Salah satu gambar yang menakjubkan menurut saya.

menye-minyi-munyu-menye-minyi

Friday, June 11, 2010

Ode untuk Kamu

Aku biarkan kamu sendiri, boleh?
Sendiri itu bisa membuat kita berpikir dengan jernih. Kamu pasti pernah kan mendengar "terkadang seseorang membutuhkan waktu sendiri untuk memahami apa yang terjadi". Aku rasa kamu membutuhkan itu. Tidak terlepas dari fakta bahwa aku juga. Aku juga butuh kesendirian yang sama. Aku butuh berpikir.
Bukan untuk selamanya sih. Kamu kan tau, aku kurang suka berpikir terlalu keras. "Menghemat otak," itu makna yang (kurang lebih) meluncur dari bibirmu. 
Apa yang kupikirkan? Kamu pasti tau, atau kamu tidak tau? Atau mungkin aku yang selama ini berpura-pura bahwa kamu juga tau? Baiklah, aku rasa, kita sama-sama tau bahwa hubungan yang dulu hanya rindu. Ya, kita sama-sama rindu untuk dicintai, namun sepertinya aku sudah sadar sekarang.

Izinkan aku pergi, ya?
Taukah kamu? Aku menulis ini disela-sela fajar masih malu menampakan sinarnya. Ya, saat titik-titik air kecil menutupi setiap lekuk bungaku. Kamu tau jelas kebiasaanku. Meminum bergelas-gelas kopi, lupa meminum obat, tidak bisa naik sepeda, ceroboh, dan tentu saja merah. Ingatkah kamu akan merah? Ah rasanya aku ingin berbicara frontal kepadamu, namun aku terlalu takut. Takut kamu terluka. 
Ah ya, kembali lagi ke saat titik-titik air kecil menutupi setiap lekuk bungaku. Aku mengagumi embun lebih dari aku mengagumi bungaku. Tetapi, kala matahari perlahan naik itulah saat embunku pamit. Aku menggunakan pengandaian ini kepada hubungan beberapa bulan yang lalu (entah hubungan apa). Mungkin ini saatnya, embun pergi meninggalkan lekuk bungaku. Embun sangat indah bukan? Ia indah, dinginnya menyejukan hati, berbau basah, dan bagai nada dengan ritme, embun melengkapi syahdunya pagi hari. Embun tidak bertahan terlalu lama setelah matahari mengangkat dagu. Apa kamu mulai mengerti?





Kamu sendiri saja, tak apa?
Hei, ingatanku kembali kepada beberapa bulan yang lalu. Saat aku menduga bahwa kamu adalah kotak pandora. Ah, kamu tau aku benci menebak-nebak, tapi selalu saja kamu hinggap dan membuatku menebak-nebak. Kamu tau tidak mengapa aku menganggap kamu sebagai kotak pandora? Kamu ibarat sebuah kotak yang apabila isinya tidak terlihat akan menimbulkan banyak tanya bagiku, namun apabila aku membuka  kotak itu, aku akan mendapatkan apa yang tidak ingin aku dapatkan. Membuka kotak pandora seperti menarik kesimpulan tanpa membaca gagasan utamanya. Menyiksa.
Aku menyesal. Bukan bukan, bukannya aku menyesal bertemu dengan kotak pandora seperti kamu. Aku hanya menyesal mengapa tidak bisa bersabar menunggu kamu yang membuka kotak itu. Aku selalu ingat betapa kamu membenci kata sesal. Sesal itu masih musuhmu, ya kan? Apakah kamu menyesal telah mengenal pengamat seperti aku? Caci aku saja, tak apa. Rasanya ini bagus agar aku lebih sabar nantinya.

Maafkan aku, yah?

P.S:
pernah kan kamu dengar bahwa tanaman yang disiram dengan rutin akan tumbuh dengan baik? sepertinya kata-kata itu terbukti salah,  setiap tanaman punya kapasitas tersendiri dalam menampung air kan? semakin sering ia disiram, semakin cepat pula proses membusuknya. kamu mulai mengerti kan bahwa aku bukan tanaman yang tumbuh dengan baik?


Biarlah Tuhan yang tau.

Wednesday, June 9, 2010

Aku dan Impianku

Sejak kecil, saya tidak pernah bermimpi menjadi dokter. Jadi dokter itu sulit. Sulit uang, sulit otak, sulit peka (loh, kalau pasiennya takut, dokter kan harus peka juga), dan juga sulit-sulit yang lain. Sepertinya saya cukup jadi pasien teman-temanku yang menjadi dokter saja.

Masih kecil dulu, sepertinya saya tidak pernah dibayang-bayangi akan menjadi apa saat dewasa nanti. Ya, begitulah. Melodi lagu "Susan Susan Susan, kalau gede mau jadi apa?" mungkin salah satu inspirasi bagiku untuk mencari cita-cita. Saya berbeda dengan Susan, ia ingin sekali menjadi dokter, namun tak pernah tumbuh dewasa. Yah, Susan akui saja, kamu memang terlahir untuk selalu kecil (jangan salahkan saya, ini fakta)

Cita-cita saya yang pertama adalah menjadi professor. Dahulu saya sangka professor itu adalah ilmuan yang menemukan penemuan-penemuan baru, ternyata bukan. Professor adalah orang yang dapat gelar kehormatan karena karya tulis dan pembuktian karya tulisnya (seperti disertasi dan teman-teman, dan saya tidak expert dalam masalah ini). Cita-cita menjadi professor kandas sudah setelah mengetahui faktanya. Saya mau jadi ilmuan, namun saya tidak berminat pada IPA, jadi........ 

Cita-cita saya selanjutnya, menjadi astronot. 
-___- aneh ya? Mungkin karena dulu kebanyakan nonton film luar negeri dan ingin bergabung dengan NASA yang eksis itu (sekarang masih eksis kan yah?) tapi ada gosip katanya astronot di Indonesia agak aneh dan kalau mau jadi astronot, seenggaknya pergi ke luar negeri dan akhirnya mimpi menjadi astronot kandas ditengah jalan dputus oleh rantai kenyataan (mulai deh figurative language-nya keluar)

Selanjutnya, saya mau menjadi penulis komik.
Pada masa usia 8 tahun minat saya akan membaca tersalurkan dengan fasilitas yang papa mama miliki. Buku. Banyak buku. Buku memasak, buku agama, buku bergambar, sampai-sampai cerita kolom di surat kabar. Buku seperti mengubah cara pandang akan hidup. Entahlah. Saat saya membaca sebuah komik di toko buku, saya memutuskan untuk menjadi penulis komik misteri. HAHAHA, konyol memang. 
Saya mau jadi penulis komik, pindah ke jepang, menggambar manga, dan dibuat anime. Sangat klasik. Sekali lagi saya tegaskan, saya buruk dalam menggambar. Menggaris lurus pun masih belum bisa, garis-garis dibuku masih menjadi panutan saya untuk menulis indah. Ya, saya masih terkekang dengan garis dan apabila saya diberikan kertas kosong tanpa garis, saya akan menyulap kertas kosong tersebut menjadi sebuah kertas yang dipenuhi gambar gunung (saya tidak bisa menulis lurus dan saya pernah kecewa. Namun sekarang, saya tahu artinya bahwa tulisan anak kecil yang naik-turun seperti gunung itu diakibatkan oleh impian dan cita-cita yang mempengaruhinya)
Mimpi ini tetap saya lanjutkan bahkan sampai sekarang.

Setelah tumbuh makin dewasa dan kecintaan saya akan bahasa terus bertambah, saya memutuskan untuk menjadi penerjemah buku asing. Saya mencintai bahasa, segala peraturan dibahasa, dan saya juga bercita-cita menguasai minimal lima bahasa asing. Jujur, mimpi ini sempat terlupa begitu saja dengan hiruk-pikuknya dunia SMP dan waktu yang (seolah-olah) sedikit sehingga saya tidak bisa belajar bahasa asing dengan maksimal. Mimpi saya (lagi-lagi) kandas ditengah jalan. 

Saya mulai mencari pelarian dari bahasa-bahasa asing, saya menekuni bidang psikologi dan yaa tebakan anda benar. Saya ingin menjadi psikolog. Saya mulai membaca beragam buku psikologi, saya membaca banyak buku self-improvement, dan akhirnya saya keluar dari jaman kegelapan saya (baca: sorrow, galau, dan lain-lain) 
Saya semakin banyak membaca buku. Bukan buku komik dan buku random seperti dulu, namun buku-buku fiksi. Saya mulai berani menulis karya saya sendiri, terilhami dari fiksi misteri yang ditulis sahabat saya, Karina. Dunia dan bidang tulis-menulis telah saya geluti, dari menulis cerpen, novel (entah itu novel atau bukan tetapi saya menulis baru beberapa halaman saja, jadi itu novel bukan?), dan puisi. Saya jatuh cinta dengan puisi. Puisi membiarkan saya bebas tanpa merasa terikat. Saya bisa saja menulis puisi dengan beberapa huruf dan memiliki makna yang luas, dibanding novel atau cerpen dengan syarat minimal jumlah halaman (aturan ini serasa mengikat saya)

Saya mencintai dunia menulis ini, khususnya puisi (tentu saja analogi juga). Sangat. Dengan puisi, saya bisa mengungkapkan perasaan saya tanpa harus diketahui secara gamblang.
Saya akui, saya mengangkat topi dengan kelabilan anak-anak kecil dalam memilih cita-cita meraka. Saya rasa mereka akan mengerti mengapa terjadi banyak keputusan dan pemilihan cita-cita. Hal itu cukup dijelaskan dengan membaca ulang posting ini dari awal sampai akhir. Dan saya rasa, posting ini sudah bisa menjawab pertanyaan mengapa Susan mempunyai banyak cita-cita. Beragam cita-cita dengan satu tujuan yang sama yaitu bahagia.


P.S:
Dengan tercapainya awal mimpi saya di psikologi, saya masih bisa tetap menulis kan?

Dream-Chaser

Tuesday, June 8, 2010

Sick Rose

Belakangan hari kemarin, saya memikirkan dua buah kata "sick" dan "rose". I never thought that it was a literary work from William Blake. 




P.S:
I'm not a sick rose. I'm a sick red rose.

peace out--love

Friday, May 28, 2010

Holydie

Aura liburan sudah tercium, hahaha. Akhirnya kuliah selesai juga. Gw akan ngelanjutin kuliah yang baru. Yah, segudang aktivitas lagi sih. OKK, padus, OBM, PSAF, dan penyesuaian sama matakuliah yang baru lagi.

Berat juga sih ninggalin Sastra Inggris UI, tapi..ini mimpi yang udah jadi kenyataan.
STOP, ngomongin pindah fakultas ah. Oh iya, liburan yang panjang ini yang (katanya 3 bulan) akan gw habiskan dengan belajar banyak hal baru: contohnya, gw mau belajar bahasa mandarin dan jerman (doakan saja), mau belajar masak, dan yang terakhir gw mau magang.

Liburan yang identik dengan ngabisin uang akan gw manfaat sebaik-baiknya untuk mencari uang, hahaha. Banyak temen-temen gw yang mau belajar ngejahit loh! Katanya sih, pada mau ngebuat baju sendiri. 

P.S: 
ga sabar menjadi orang yang lebih baik setelah liburan. happy holydie! eh holiday maksudnya

XOXXO

Wednesday, May 19, 2010

Hari Absurd berujung dengan Main Sepeda

Welcome back to my blog after long time no new posting.

Belakangan ini masih sibuk dengan kegiatan kuliah yang seabrek-abrek, project buku yang masih belum rampung, dan UAS (booing of the reader, dilemparin kacang kulit, dilemparin kaleng), hahaha.
Oke langsung ke topik, tadi gw belajar main sepeda ditemenin sama Canu dan Sally . 

JUJUR, gw ga bisa naik sepeda. Terakhir naik sepeda, gw dilatih sama Tiara, Vidya, dan Dewe (dan tidak membuahkan hasil) jadi gw tetap dalam luntang-lantung sana-sini ga bisa naik sepeda kalo ada yang ngajakin naik sepeda. 
Tadi, gw keceplosan, harusnya langsung pulang tapi ngedenger Canu bilang kalo dia mau ke FE naik SEPEDA, gw kepikiran kalo gw juga mau bisa naik sepeda. 

Seru aja ngebayangin, naik sepeda sore-sore, rambut seliweran adem, rambut dikuncir tinggi, pake sepeda kumbang, di depan sepedanya ada buket bunga yang penuh sama bunga mawar merah. Subhanallah MAU BANGET! 



Muncullah ide terbesit di otak Canu. 
Kira-kira begini percakapan antara gw, Sally, dan Canu:

C: Ayo naik sepeda deh yuk!
G: (Gw ngegerutu ogah-ogahan males kayak ABG minta disiram air keras) 
S: Ayo gw juga mau naik sepeda, nanti kita ajarin
C: Iya nanti diajarin, ayolaaaaahhhh
S: Ayooo ini beneran kan naik sepeda?
G: (pasang tampang kertas lecek)

Kita pun ke halte sepeda deket parkiran mahasiswa FIB (karena halte sepeda disana terbilang sepi). Pada awalnya gw sudah merasa menang karena sesampainya di halte sepeda FIB cuma ada satu sepeda. 

SORAK SORAI BERGEMBIRA (nyalain petasan, mau lari teriak-teriak keliling kampus, mau ngasih senyuman termanis buat semua orang yang lewat--gapapa deh disangka orang gila)
It turns out that ga lama banyak sepeda yang dibalikin ke halte dan pandangan Canu dan Sally seolah berkata "HAHAHA, emang rejeki lo main sepeda hari ini. HAHHAHA,"
GA JADI SORAK-SORAI BERGEMBIRA, (matiin petasan, ga jadi lari-lari keliling kampus, dan ga ngasih senyuman termanis buat orang-orang yang lewat--ga jadi disangka orang gila)

Dimulailah petualangan saya, kawan..
Saya mulai ditempa keseriusan dan amarah dari Canu, dia pelatih sepeda sebenarnya, bisa ngasih motivasi walaupun dengan cara "baik" yang berbeda dari Sally (baik sesungguhnya) dan berhubung gw ga terlalu bisa diajarin pake cara yang terlalu baik, cara Canu-lah yang nempel.
Gw harus taklukin sepeda itu. Harus. 
Rem, cara belok, ngebut pas turunan, ngasih rem, ngasih bunyi klenengan (gw selalu ngebunyiin ini biar ngerasa semangat kalo udah males belajar sepeda. rasanya bahagia bangeeet)
Dari gw ga bisa ngayuh sepeda dengan dua kaki, dari nyari keseimbangan, dari jatoh pas ngebut-ngebutan (percaya ga percaya kaki gw biru bangeeet, hahaha, yaudahlah ya, euforia gw naik sepeda rasanya hampir sama kayak Indonesia menangin piala Thomas, hahaha)

Naik sepeda itu seru banget. banget. banget. banget. banget. banget. banget. banget.
YAAMPUN, pantesan dulu Tiara, Vidya, sm Dewe mau banget gw bisa naik sepeda. Yaampun naik sepeda itu rasanya beda sama ngendarain mobil (jauh bangeet)

P.S:
Gw mau naik sepeda lagi loh besok, hehehe, harus lancar! Harus lancar!

XXO

Thursday, May 13, 2010

Dear Rockstar,

These are what novi and I wrote about our friend, the Unpad Boy (boy or man? Ah, I still consider you as boy, no offense)


ME:


dear rockstar, so much memory leave all behind here while you're working on ur life :"D


dear rockstar, i miss the day when we used to share chatartic stories.


dear rockstar, you know what? I thought you were good in gray, not black, too emo. No offense,


dear rockstar, to tell you the truth, I'm afraid with ur friend. Yeah, the one with eyes in fire like holding a grudge in me.


dear rockstar, it is been a long long long long time since our junior high school


dear rockstar, i hate all the facial expressions you made, they're too sad. Have you ever heard the word "happy" ?


dear rockstar, tell me how to pronounce Eiffel in french


dear rockstar, remember when you walked to my house? you must be crazy or something, I guess


dear rockstar, i hate see you wear black jacket. it's like covering your scars from ur skin


i suddenly remember when novi look at ur national exam photo. well, teenagers have some way to their true feeling


dear rockstar, stop telling me that you want to be Kurt Cobain someday. you're not.


dear rockstar, i hate your senior-high-schooled-girlfriend. she is one of the "IT" girls


dear rockstar, why you always bring handkerchief?


dear rockstar, i thought you wouldn't have social networks, like facebook, as you said when we're in junior high school



Novi:

dear rockstar, why does your profile full with comments came from a girl? me feeling a lil bit jealous haha


dear rockstar, everytime i remember you gave tipaw a bracelet, i want to give you her phone number, i think you've lost it :D


dear rockstar, i wrote about this "dear-rockstar-messages" thing in fb, i hope you know exactly who i mean hihihi


dear rockstar, i guess my bestfriend (and maybe yours) misses you hehehehe


dear rockstar, sometimes i wish i could speak French, so when i wrote French poem as my fb status, you could understand it 


dear rockstar, you're not really gay are you? cuz almost everyone i know said it.


dear rockstar, I HATE YOU. really. but sometimes i miss you. DAMN IT 


dear rockstar, why did i feel happy everytime i saw you?how could you act as if you had been in love with me? my friend witnessed it


dear rockstar, the day i looked at your table i saw blue and yellow lyrics, that's why i loved that damn song 

but since i knew the truth, i hate that song. yet i'm feeling guilty for the used now -.- 


dear rockstar, keep writing some great poems, you are always great at writing them :)


  

dear rockstar, i dont know if you felt the same feeling i did about you. but i'm sure one thing, beside you have beautiful heart, you have also ugly heart. yeah two heart in your body sweetie. and i wished you had lost them both haha


dear rockstar, i thought i'm in love with you at first, but then i'm sorry, i think you were just my escape from my broken heart


P.S:

Novi and I conclude that we're missing you!

Hope you're doing well!


XOOO

Saturday, May 8, 2010

I LOVE TODAY

Hari ini, saya berhasil diterima di Fakultas idaman saya. 
Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. 

Saya berhasil mengalahan ribuan (bahkan mungkin puluh ribuan calon mahasiswa baru di UI), saya 1 dari 6233 mahasiswa yang berhasil lulus Simak UI, dan 1 dari 122 calon mahasiswa Psikologi kelas Reguler.





Ah terima kasih ya Allah,


P.S:
tujuan selanjutnya, menerbitkan buku :D

XXXO

Tuesday, May 4, 2010

Happy Birthday, Brother!

Happy birthday. Saengil cukha haeyo. Joyeux anniversaire. 

Hey hey, kakakku sayaang, happy birthday. Take a look at past, kita berhasil dan mahir ngelewatin semua masalah yang lebih berat dari ini. Semua. Apapun. Kita bisa ngelewatinnya sama-sama.

Segalanya akan baik-baik saja. Papa, mama, aku, dan lia sayang sama lo, walaupun ngga ngomong pake kata-kata. Dulu gw udah pernah apa-apa saja yang bisa diungkapkan pake kata-kata dan apa-apa saja yang ngga harus diungkapkan kan? (seinget gw udah dan emang agak absurd, jadi kalo lo lupa, gw mohon, try to remember it. IT plays GREAT role and affects my whole life so much :D)

Inget masa-masa kecil dulu ga? Di mana kita suka berantem dan berteriak satu sama lain, sekarang kebiasaan bodoh itu udah berlalu gitu aja. Saat gw inget ini, gw merasa nonton film flashback tanpa suara. Boleh kan kita ngeganti masa-masa itu dengan lebih banyak menciptakan kenangan indah kayak sekarang? 

Persetan sama skri*shit, lo bisa ngelewatin itu. Penderitaan kita dari dulu lebih berat dari masalah yang lo hadapin sekarang.

Ibarat pisau, kita (gw, lo, dan lia) sudah sangat tajam dan sudah melewati berbagai asahan.


P.S:
Ahh, gw sayang banget dan kangen banget sama lo.

XOXOXO

Wednesday, April 28, 2010

Berbagi Cerita tentang Kunci

Saya berjalan menyusuri lika-liku kehidupan dan sampailah saya didepan sebuah pintu. Pintu itu rapuh, namun sangat menarik perhatian saya untuk mendekat. Perlahan tapi pasti, saya dekati pintu itu. Tampilan pintunya yang rapuh itu memang gangguan terberat untuk saya, tapi saya penasaran. Ingin mendekat dan terus melihat dari dekat.

Saya duduk didepan pintu itu. Setiap hari. Tak saya temukan sedikitpun petunjuk apa-pun dari pintu itu. Tidak sama sekali.

Suatu hari, saya letih dan titik jenuh saya sudah mencapai puncaknya. Saya putuskan untuk melanjutkan perjalanan, namun hari itu, si pemilik pintu menampakan diri dan kami mulai mengenal. Banyak bercerita dan berceloteh. Banyak tertawa dan menangis. Banyak berharap dan mengeluh. Kami menjadi dekat.

*

Kami berbagi rahasia. Banyak bercerita dan berceloteh. Banyak tertawa dan menangis. Banyak berharap dan mengeluh. Kami semakin dekat. 
Si pemilik pintu memberikan sebuah kunci karena rupanya ia menyadari ketertarikan saya yang besar akan pintu yang rapuh dan rupawan itu. Ia berkata bahwa saya akan bisa memegang kunci, namun ia tidak berkata kapan saya harus membuka pintu itu.

Setelah si pemilik pintu memberikan kunci, ia pergi dan tak pernah menampakan diri lagi.

Satu, dua, tiga, dan empat hari saya lalui. Namun tetap, si pemilik kunci tidak pernah menampakan diri.
Lima, enam, tujuh, delapan, dan sembilan hari saya lalui, sampai kapan saya harus menunggu sampai si pemilik kunci kembali?
Hari ke sepuluh, saya berkeliling disekitar pintu itu untuk mencari celah di pintu, namun tak sedikit pun terlihat.
Sebelas, duabelas, tigabelas, empatbelas, limabelas, enambelas, tujuhbelas, delapanbelas....saya letih menghitung. Ia tetap belum kembali.

Saya letih. Saya berdiri selama delapanbelas hari. Mencari celah dan sedikit mengintip apa yang ada dibalik pintu, namun itu tertutup. Besar sekali keinginan untuk mencoba membuka pintu. Tapi yang saya rasa hanyalah kebohongan. Saya mencoba kunci pemberiaan si pemilik namun kunci itu tidak bisa dan tidak cocok untuk pintu ini.



Bohong. Dari awal ia memang tidak mau memberitahu apa yang ada dibalik pintu tersebut. Ia hanya memberikan kunci. Kunci yang bahkan tidak cocok dengan pintu tersebut. Buat apa dari awal ia memberi kunci ini.

Saya ingin sekali membuang kunci ini dan melanjutkan perjalanan saya. Bisa kalian bayangkan, delapanbelas hari saya hanya membuang-buang waktu. Saya ingin sekali membuang kunci ini, tapi tidak bisa, saya merasa berkewajiban mengembalikannya langsung kepada si pemilik. 

Sampai sekarang saya masih menggenggam kunci ini erat-erat sebelum bisa untuk melepaskannya.
Saya tahu, sangat letih memang, berdiri dan tertatih didepan pintu rumah yang bahkan saya pun tidak tahu akan ia bukankan atau tidak.
Yang saya tahu, saya diberi kesempatan ini dan kalau mereka bisa, kenapa saya tidak?

P.S:
Analogi ini memang absurd. Jangan dilanjutkan membaca

LOVE
OOX